Sofi Mubarok: Khilafah Bukan Ajaran Nabi, Tapi Persoalan Ijtihadi
Sumber : Harakatuna
Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) menggembar-gemborkan harus kembali ke masa kejayaan Islam. Hal itu dilakukan demi tegaknya khilafah.
Muhammad Sofi Mubarok menyatakan, bahwa hal tersebut tidak sesuai dengan konteks kesejarahan Indonesia. Hal ini ia sampaikan saat menjadi narasumber dalam bedah buku khilafah yang diselenggarakan oleh Badan Semi Otonom (BSO) Penalaran FISIP Universitas Airlangga Surabaya pada Jumat (29/9/2017) di Auditorium Fakultas Hukum Univesitas Airlangga, Surabaya, lantai 3.
“HTI mengatakan kita harus kembali ke masa keemasan Islam. Ini sangat tidak tepat dengan akar dan historitas bangsa Indonesia. Kejayaan Islam jelas di Timur Tengah, kalau dalam konteks Indonesia kejayaan ada pada zaman Majapahit, Sriwijaya dan lain. Kejayaan seperti apa yang diinginkan HTI tidak ada rujukan historis dan terkesn dipaksakan,” katanya.
Penulis buku Kontroversi Dalil-dalil Khilafah itu juga mengatakan, bahwa khilafah bukan bagian dari ajaran Nabi, melainkan produk ijtihadi, hasil olah pikir manusia terhadap teks Al-Qur’an dan Hadis.
“Kalau khilafah adalah kewajiban, mengapa Nabi Muhammad tidak pernah menegaskan pengganti Nabi. Karena itu, khilafah bukan ajaran, tapi persoalan ijtihadi dan produk pemikiran manusia atas tafsiran teks al-Qur’an dan Hadis,” ujarnya di hadapan 250-an peserta.
Khilafah sebagai produk ijtihadi itu diperkuat dengan dalil-dalil Al-Qur’an yang masih terlalu umum. Hal ini menurut kandidat doktor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu membuat permasalahan tersebut diserahkan kembali kepada manusia.
“Teori ketatanegaraan dalam al-Qur’an selalu mujmal, dan tidak terperinci. Ini artinya ada pesan agung di dalamnya bahwa urusan manusia dipasrahkan semuanya pada manusia,” tandasnya.
Komentar
Posting Komentar