Postingan

Anatomi Radikalisme di Indonesia (3): Penetrasi Salafisme

Gambar
Kepempinan Jamaah DI/NII bergeser ke Jawa Tengah (Solo) dan Yogyakarta di bawah pimpinan Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Ba’asyir yang direkrut menjadi anggota DI oleh H. Ismail Pranoto (Hispran) pada 1976 dan ditunjuk sebagai pimpinan Jamaah DI/NII di Surakarta. Masuknya Sungkar dan Ba’asyir menandai semakin kuatnya pengaruh salafi di tubuh DI. Sungkar dan Ba’asyir adalah penganut Wahhabi. Sungkar alumnus SMA Muhammadiyah Solo, Ba’asyir alumnus Pesantren Gontor. Semula radikalisme DI/NII tidak dipengaruhi doktrin salafi karena proklamator DI, SM Kartosoewirjo, adalah penganut Islam tradisional. Guru sang Imam adalah para ajengan tradisional di Malangbong, Garut seperti Kiai Ardiwisastera, Kiai Yusuf Tauziri, Kiai Mustofa Kamil, dan Kiai Ramli yang bukan penganut salafi. Sang Imam bahkan dikabarkan adalah pengikut aliran tarekat Qadiriyah. Pengaruh salafi masuk secara tidak langsung melalui Aceng Kurnia, bekas ajudan SM Kartosoewirjo. Kebutuhan menyusun buku panduan lengkap tentang dok...

Berita Hoax Ancam Negara Demokratis

Gambar
Penyebaran berita bohong atau yang sering disebut berita hoax semakin menunjukkan dampak negatifnya. Pasca pesta demokrasi sekarang ini, keberadaan berita hoax mempunyai pengaruh yang kuat untuk menumbangkan demokrasi di Negeri sendiri. Berkembangnya teknologi informasi, membuat berita hoax tersebar dengan cepat. Hampir setiap hari masyarakat kenyang akan berita hoax. Minimnya sumber informasi dan pasifnya masyarakat dalam mengoreksi berita menjadi penyebab utama berkembangnya berita hoax. Sehingga seringkali berita hoax dinyakini sebagai berita yang benar. Berita hoax yang disusupi politik menjadi perbincangan hangat di media sosial. Berbagai ujaran kebencian, provokasi, hingga pencemaran nama baik mulai membanjiri media sosial. Jika hal ini dibiarkan terus menerus, bukan suatu hal yang mustahil bila nantinya demokrasi di Indonesia akan hancur. Dengan hancurnya demokrasi, maka pemerintahan tidak akan mempunyai nilai di mata masyarakat. Ribuan berita hoax yang memuat konten politik ...

Konsepsi Nilai Ketuhanan Dalam Pancasila

Gambar
Pada hakikatnya dalam sila pertama yang tertuang dalam pancasila yang berbunyi Ketuhanan Yang maha Esa menegaskan kepada setiap warga negara untuk mengakui keberadaaan tuhan. Oleh karena itu, setiap warga negara berhak menyembah tuhan yang diyakini keberadaannya. Setiap rakyat Indonesia harus saling menghormati dalam menjalankan ibadah keagamaan masing-masing. Negara Indonesia adalah  negara yang menjamin kebebasan beragama bagi pemeluknya. Indonesia merupakan negara yang beragama, oleh karena itu penduduk Indonesia harus mempunyai tuhan untuk disembah. Sila ini menekankan nilai fundamen etis-religius dari negara Indonesia yang bersumber dari prinsip ketuhanan yang diajarkan oleh berbagai agama dan keyakinan yang sudah ada, sekaligus merupakan pengakuan akan adanya berbagai ajaran dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa di Tanah Air Indonesia. Dengan adanya kalimat “Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa” dalam pembukaan UUD 1945 membuka mata kita bahwa sejatinya konsep ketuhan...

Menilik Radikalisme di Kampus

Sebenarnya ketakutan tentang radikalisme dan penegakan khilafah telah ada sejak beberapa tahun lalu. Kampus menjadi terdakwa utama dalam peranannya sebagai pemasok kaum radikalis dan anti-pancasilais. Sebagaimana laporan media massa arus utama setahun lalu bahwa gerakan radikalisme semakin hari dikabarkan justru berkembang di kalangan kaum intelektualis, baik itu dalam komunitas maupun di perguruan tinggi. Artinya, lingkungan kampus saat ini patut dicurigai sebagai ladang radikalisme (Kompas, 20/02/2016). Yang menjadi Pertanyaannya ialah bagaimana bisa di lingkungan yang terbiasa dengan kegiatan diskusi, gudang ilmu pengetahuan dan pengalaman bisa terjangkit virus radikalisme? Pertama, berpijak pada pendapat Marcus Mietzner, ahli sosial-politik dari Universitas Nasional Australia, wawasan akademisi sekarang, utamanya mahasiswa telah disempitkan oleh banjir informasi. Budaya diskusi dan klarifikasi tergerus dengan minat terhadap media sosial dan gawai. Orang lebih suka membaca dan mem...

Epistemologi Keislaman Sebagai Pijakan Dalam Bertasawuf

Gambar
Fenomena saat ini, sebagian orang yang begitu getol dalam upaya membersihkan jiwa (tazkiyatu Al-Nafs), namun minim akan epistemologi Fikih, hadis, tafsir dan sejenisnya sebagai landasan dari pengejawantahan syariat. Dalam pandangan Sirri Al-Saqati, tokoh besar yang melakukan rekayasa pembentukan karakter pada proses pembelajaran Junaid Al-Baghdadi, pernah mengungkapkan pandangan pribadinya soal metode dalam bertasawuf. Menurutnya, apabila seseorang ingin memulai amalan hidup zuhud (amalan tasawuf), kemudian setelah itu baru mempelajari hadis, maka ia akan musnah. Maksud Sirri Al-Saqti di sini adalah kehampaan dalam upaya menjalani tasawuf dalam rangka pembersihan jiwa. Sebaliknya, apabila seseorang memulainya dengan mempelajari hadis, kemudian baru mengamalkan cara hidup zuhud (amalan tasawuf), maka ia akan sukses. Kenyataannya, dalam historisitas tasawuf, golongan sufi telah meletakkan dasar rujukan yang jelas, yaitu ilmu-ilmu zahir yang merupakan ushul atau pokok/pangkal, sedangkan ...

Mereduksi Radikalisme Kampus

Gambar
Negeri ini bel a k a n g a n gaduh karena informasi sesat dan menyesatkan (hoaxs) serta radikalisme dan intoleransi. Tema-tema tersebut mengguncang dunia maya dan berimplikasi pada dunia nyata. Hoaxs sering kali memicu ketegangan masyarakat, lebih serius lagi antarumat beragama. Melihat literatur sejarah, para pendiri negeri bersepakat untuk membawa kemerdekaan ke ranah kebinekaan. Negeri ini dianugerahi masyarakat dari beragam pulau, budaya, ras, dan agama. Untuk itu pula, kebinekaan menjadi keniscayaan. Lalu, apa yang memicu radikalisme? Tampaknya hoaxs menyumbang sikap radikalisme itu. Informasi keliru, disebar lewat jejaring media sosial yang begitu cepat sampai ke pembaca. Sayang, meski dunia digital semakin modern, mayoritas pembaca tak begitu bijak menyikapi informasi. Begitu menerima informasi, tanpa analisis, berupaya mencari kebenaran, lalu menyebarkan kembali informasi keliru ke orang lain. Dampaknya, sungguh luar biasa. Pergesekan sikap, bahkan sampai pertikaian fisik ter...

Mengokohkan Keberagamaan Lewat Nasionalisme

Gambar
“Agama dan nasionalisme adalah dua kutub yang tidak berseberangan. Nasionalisme adalah bagian dari agama dan keduanya saling menguatkan.” (Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari, 1871-1947). Indonesia sejak diproklamirkan 71 tahun silam, telah tumbuh bersama berkembangnya agama Islam. Namun demikian, eksistensi Islam Indonesia selalu dinamis seiring relasi negara dalam menempatkan posisi umat Islam dan pasang surut tensi politik global yang berkembang. Massifnya Islam di Indonesia ditandai dengan tingginya taraf pengorganisasian sejak era kemerdekaan, termasuk dalam proses membangun nasionalisme dan memperjuangkan kemerdekaan. Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah sebagai organisasi Muslim terbesar yang telah mendominasi kehidupan sosial-keagamaan masyarakat Indonesia barangkali menjadi contoh yang tak terbantahkan dari proses ini. Nasionalisme menurut Hans Kohn (2009), diartikan sebagai keadaan pada individu yang dalam pikirannya merasa bahwa pengabdian paling tinggi adalah untuk bangsa dan ...