Postingan

MUI: Politisasi Agama itu Menyesatkan dan Lebih dari Haram

Gambar
TEMPO.CO, Jakarta- Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia atau MUI Amirsyah Tambunan menyampaikan pandangan tentang fenomena politisasi agama yang kerap terjadi. Dia mengatakan sikap dan perilaku orang-orang yang melakukan politisasi agama untuk kepentingan tertentu adalah haram. “Sesat itu, kalau agama dipolitisasi, menyesatkan namanya,” kata dia pada Tempo pada Selasa, 26 Desember 2017. Menurut Amirsyah, jika agama disalahgunakan dan dijadikan alat untuk mempolitisasi suatu kepentingan tertentu, hal tersebut merupakan perbuatan sesat. “Menyesatkan lebih tinggi dari haram, sesat itu kalau agama dipolitisasi,” ujarnya. Amirsyah mengatakan, dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, para pemimpinnya harus memahami nilai-nilai agama dan memiliki sikap serta karakter yang berbarengan dengan nilai agama. “Jadi agama jangan dipolitisir untuk kepentingan politik,” kata dia Sebab, menurut Amirsyah, agama tidak dapat dipisahkan dari kehidupan dunia. Agama ialah landasan etik moral...

Islam dan humor

Gambar
Suatu hari Abu nawas menggegerkan penjuru pasar. Ia menantang tebak-tebakan warga. Jika berhasil menebak ia akan memberi imbalan dan bila gagal ia meminta imbalan. Isi tebakanya yang tak lazim membuat semua orang gagal menebak. Ia memberi tebakan "Limadza ana aghna mina Allah?" (kenapa saya lebih kaya dari Allah?). Semua orang gagal memberikan alasan. Tak terkecuali Sang Raja Harun Ar-Rasyid. Karena penasaran sang raja mengaku nyerah dan minta jawabanya. Abu Nawas pun dengan tersenyum puas menjawab: "Karena saya punya istri, anak dan punya hutang. Allah tidak punya semua itu". Sontak Harun Ar-Rasyid pun tertawa terpingkal-pingkal sambil berkata: "Majnun! (dasar wong edan)". Dan masih banyak kisah-kisah lucu lainnya dari seorang sufi yang seumur hidupnya dihabiskan untuk menghibur manusia. Di era Nabi juga ada sahabat yang selera humornya kelewat batas. Dikisahkan seorang sahabat Nabi yang bernama Nuaiman. Ia adalah pribadi yang humoris tapi gemar mabu...

Blak-blakan Mantan Aktivis HTI Cerita Teori Tebar Jala di Lautan Medsos oleh HTI

Gambar
Mantan anggota Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), Rofiq Al Amin mengatakan dalam kitab HTI disebutkan mereka yang tidak melaksanakan khilafah termasuk akbarul ma'asi atau kemaksiatan yang paling besar. "Saya lima tahun aktif di HTI. Di antara upaya gerakan radikalisme itu tebar jala ide dan hoaks, daya tunggang dan kamuflase," kata Rofiq dalam Dialog Kebangsaan GP Ansor Bintan, Kepulauan Riau, Selasa (27/11). Ia menjelaskan di era saat ini, generasi milenial hidup berakrab ria dengan medsos. Di 'lautan' medsos inilah generasi milenial banyak belajar dan diajari untuk hidup, tumbuh dan berkembang; baik cara tampilan diri, cara berfikir, cara bergaul, hingga sikap dan cara keberagamaannya. "Lalu, siapa yang mengajarinya? Tidak lain semua pihak dari seluruh penjuru jagat raya yang berkepentingan. Seluruh pihak yang berkepentingan akan berupaya menebar 'jala' pemikiran di 'lautan' medsos untuk menjaring generasi milenial agar mengikuti idenya,...

Islam Jaya dengan Ilmu

Gambar
Dulu Islam pernah mencapai zaman keemasan pada abad ke-7 sampai 13 Masehi. Pada zaman itu lahir bintang-bintang cemerlang yakni para ilmuan yang berjasa melalui sumbangsih ilmu dan penemuan.  Di antara ilmuan Islam tersebut seperti Jabir ibn Hayyan (721-815 M), Al-Fazari (w. 796/806 M), Al-Farghani (w. 870 M), Al-Kindi (801-873 M), Al-Khawarizmi (780-850 M), Al-Farabi (874-950 M), Al-Mas’udi (896-956 M), Ibn Miskawaih (932-1030 M), Ibn Sina (980-1037 M), Al-Razi (1149-1209 M), Al-Haitsami (w. 1039 M), Al-Ghazali (1058-1111 M), dan Ibn Rushd  (1126-1198 M). Mereka memberikan sumbangan yang tiada tara bagi ilmu pengetahuan dan perdaban manusia.  Manfaatnya melampaui zaman, tanpa sekat agama dan bangsa. Dunia pun berterima kasih kepada Islam karena ilmu pengetahuan.  "Itulah cara membela Islam yang benar," demikian ditegaskan Sekretaris Jendral Pengurus Pusat Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Muhammad Khalid Syeirazi, Senin (3/12). Mengutip maqolah Imam Al-Ghazali dalam ...

Tahun Politik, MUI Nilai Reuni 212 Tidak Penting

Gambar
Ketua Majelis Ulama Indonesia Bidang Informasi dan Komunikasi Masduki Baidlowi menilai tak ada urgensinya (penting) rencana reuni 212 yang akan digelar awal bulan depan. Pada tahun politik, menurutnya masyarakat lebih baik diajak berpikir rasional dalam memilih pemimpin.  Ia menambahkan, masyarakat harus diberikan penyadaran agar pemimpin nasional yang terpilih memiliki orientasi berdasarkan program-program yang jelas untuk menyejahterakan rakyat, pemimpin yang sudah teruji dan punya jejak rekam jelas kejujuran dan kesederhanaannya. “Pemimpin yang kira-kira sesuai dengan tujuan ushul fiqh: تصرف الامام علي الرعية منوط بالمصلحة Artinya, Kebijakan seorang pemimpin terhadap rakyatnya bergantung kepada kemaslahatan," katanya,  Karena itulah, menurut Pria kelahiran Bangkalan, 20 Juli 1958 ini, MUI tak mengenal istilah organisasi atau reuni 212. Tak ada kaitan di antara keduanya.   “Jadi, umat sebaiknya jangan diajak ke arah provokasi politik yang tidak rasional, seakan-akan mem...

Formasi Tolak Reuni 212: Kami Khawatir Ditunggangi HTI 

Gambar
Forum Rembuk Masjid Indonesia (Formasi) menolak Reuni 212 yang akan digelar di Monas esok hari. Formasi menilai aksi Reuni 212 sudah keluar dari tujuan utamanya yang terkait dengan kasus penodaan agama Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok. Penolakan itu disampaikan usai acara peringatan Maulid Nabi di Aula Masjid Al-Bina, Komplek Gelora Bung Karno (GBK), Senayan, Jakarta, Sabtu (1/12/2018). Hadir dalam acara tersebut Farhat Abbas yang merupakan Caleg PKB. Ketua Formasi, Gus Soleh mengatakan, Reuni 212 saat pertama kali digelar berkaitan dengan kasus penodaan agama Ahok. Menurutnya, karena Ahok sudah dinyatakan bersalah aksi tersebut sudah tak relevan lagi. “Kepentingannya apa lagi gitu lho? Ya kita kumpul waktu itu Reuni 212 karena ada kesalahan pembicaraan dari Ahok. Dan negara kita menjadikan hukum sebagai panglima. Negara telah menetapkan dengan ketentuan hukum Ahok bersalah dan Ahok sudah ditahan,” kata Gus Soleh. “Lah kenapa ada ini lagi? Apa lagi ini tahun politik. Jadi ini sudah...

Adab dan Etika Perang dalam Islam

Gambar
Huzaifah Ibn al-Yaman RA., hendak berperang bersama Nabi namun ditolak karena pernah berjanji tidak akan memerangi kaum Musyrik. Nabi memerintahkannya untuk menepati janji. Kalau segala cara untuk menjalin hubungan baik/tidak bermusuhan telah ditempuh dan lawan tetap bersikeras menjatuhkan mudarat, tingkatkanlah upaya untuk membentengi diri menghadapinya. Tingkatkan upaya sedini mungkin dan sebelum ada musuh karena setiap Muslim memang harus berupaya untuk selalu kuat.  Di sinilah ditemukan tuntunan Allah agar mempersiapkan kekuatan untuk menghadapi musuh (QS. al-Anfal ayat 60). Tetapi, gunakanlah kekuatan itu jika tidak ada jalan lain untuk menampik kejahatan. Ini pun harus disesuaikan dengan tingkat pelanggaran. Dan jika lawan terhenti/berhenti melakukan penganiayaan/kejahatan mereka, aksi yang dilakukan harus segera dihentikan.  QS. al-Baqarah ayat 193 menegaskan: "Perangilah mereka itu sehingga tidak ada lagi penganiayaan dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata unt...