Postingan

Ini Tanda Masjid Kampus Terpapar Radikalisme

Gambar
Purwokerto, NU Online Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Brigadir Jenderal (Pol) Hamli, menyebut masuknya radikalisme di masjid lingkungan kampus dapat ditandai dari aktifitas kajian agama di dalamnya. Tema-tema tertentu dipilih menjadi topik bahasan.  Ini disampaikan Hamli saat menjadi pemateri di kegiatan Dialog Pelibatan Takmir Masjid Kampus dalam Pencegahan Radikalisme melalui Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Tengah. Kegiatan diselenggarakan di Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Purwokerto, Selasa (9/10).  Setidaknya ada ratusan civitas akademika dan mahasiswa yang aktif di pengelolaan masjid dari puluhan kampus se-Purwokerto dihadirkan sebagai peserta kegiatan.  "Identifikasi kami menemukan dua belas tema. Jika itu yang dibahas, ya itu barangnya (radikalisme, Red.)," kata Hamli.  Tema tersebut adalah thogut, kafir demokrasi, akhir zaman,  hijrah, khilafah atau daulah islamiyah, tauhid, pembatalan keislaman,...

IR SOEKARNO: KHILAFAH NO, PANCASILA YES!

Gambar
Pemikiran Presiden Ir. Soekarno tentang Islam, ternyata lebih brilian dibandingkan dengan sejumlah cendekiawan muslim nasional yang hidup di zaman now. Sejumlah gagasan dan analisisnya soal Islam masih sangat relevan sekaligus mencerahkan umat muslim Indonesia diera digital sekarang ini. Bung Karno yang juga murid tokoh utama Sarekat Islam (SI) Tjokroaminoto, sangat bergairah kalau ngomong soal Islam. Dia memberi perhatian penuh terhadap eksistensi Islam di Indonesia. Bung Karno sangat mengutamakan substansi dan esensi Islam. Dia juga menolak keras, kalau Islam diterjemahkan dalam ajaran yang sangat statis. Bung Karno pernah mengungkapkan istilah ‘Api Islam’ yaitu dia ingin menghidupkan kembali jiwa Islam sebagai ajaran universal. Bung Karno sangat tidak sepakat dengan adanya dominasi masyarakat onta atau Islam Sontoloyo. Dalam kesempatan acara buka puasa bersama sekaligus merayakan syukuran milad bung Karno tanggal 6 Juni 2018 lalu, saya melakukan kongkow imajiner bersama beliau di...

Di Balik Radikalisme NII dan Bibit Terorisme di Indonesia

Gambar
Keterlibatan jaringan Negara Islam Indonesia (NII)dalam teror terhadap Mapolda Riau, Rabu (16/5/2018) lalu, cukup mengejutkan. Lama tak terdengar namanya dan nyaris tak pernah dihubungkan dengan aksi teror, NII memang berbeda dengan organisasi-organisasi yang terang-terangan mendukung Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) seperti Jamaah Anshorud Daulah (JAD) atau kelompok Mujahidin Indonesia Timur pimpinan Santoso. Pendiri NII Crisis Center, Ken Setiawan, menyebutkan NII memang berbeda dari ISIS. Jika ISIS mendeklarasikan berdirinya negara Islam yang berpusat di Raqqa Suriah, NII jauh lebih dulu bercita-cita mendirikan negara Islam di Indonesia. Mereka mengikuti jejak Kartosuwiryo, pemimpin pemberontakan DI/TII yang ditumpas oleh TNI di era Presiden Soekarno. Tapi pada dasarnya mereka punya musuh yang sama. Mereka bisa melakukan apa saja. NII sendiri ingin mengikuti jejak Kartosuwiryo. Maka ketika muncul [ISIS] di Suriah, mereka berempati, lalu berangkat ke Suriah," kata Ken da...

Pandangan Habib Umar Soal Kebangsaan

Gambar
Manhajnya sama, ‘ijo’-nya boleh jadi juga sama, yang membuat ‘beragam’, sang guru yang hidup di tanah Yaman memakai jubah, adapun si murid yang lahir di bumi nusantara memakai batik. “MARI BERALIH DARI HAL-HAL YANG BERSIFAT KULIT MENUJU POKOK-POKOK YANG MERUPAKAN SUBSTANSI” Kutipan tersebut saya nukil dari beliau Habib Umar bin Hafidz dalam dialog terbatas bersama 30 tokoh nasional, malam ini (7/10). Hal tersebut beliau sampaikan menjawab pertanyaan TGB Zainul Majdi tentang perspektif agama terhadap kebangsaan (muwatanah). Kata beliau jika yang dimaksud dengan kebangsaan adalah rasa aman, keadilan, dan penghargaan terhadap sesama, maka itu lah Islam, apa pun istilah yang digunakan. Kaum muslimin harus menjaga hak-hak non muslim ketika minoritas, apalagi ketika kaum muslimin menjadi mayoritas. Prof. Dr. Quraish Shihab yang juga hadir di forum ini menambahkan satu kata tentang kebangsaan, yaitu musawah (persamaan hak) antar semua warga negara. Dalam pertemuan yang berlangsung kurang lebi...

Pancasila Sebagai Jalan Tengah di Antara Perbedaan Bangsa

Gambar
Jakarta, NU Online Dalam sejumlah kesempatan, KH Ma’ruf Amin melontarkan pendapat bahwa Pancasila merupakan sebuah kesepakatan yang dibangun oleh berbagai stakeholder di Indonesia sejak jaman kemerdekaan. Kesepakatan ini yang membuahkan terjadinya persatuan dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia hingga saat ini.  Hal itu diamini oleh Peneliti di Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES), Dr. Adnan Anwar. Dalam pandangannya Pancasila merupakan sebuah karya besar yang keluar dari kebijaksanaan para pendiri bangsa(founding fathers) dalam meracik sebuah ideologi jalan tengah di luar ideologi Islam dan ideologi sekuler liberal atau barat.  Pancasila merupakan kristalisasi nilai yang ada di masyarakat yang berketuhanan, berkeadilan, yang memiliki tradisi bermusyawarah untuk membangun Kesatuan Nasional. “Terbukti selama 73 tahun ideologi ini masih bisa dipraktekkan. Pancasila ini sebenarnya punya suatu gambaran cita-cita masyarakat yang ideal, den...

Penangkal Radikalisme Itu Bernama Pancasila

Gambar
Tak dipungkiri, meski Indonesia merupakan negara yang menunjung tinggi toleransi dan kerukunan, faktanya bibit intoleransi dan radikalisme masih saja ada di negeri ini. Meski Indonesia berkembang sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar, masih ada oknum masyarakat yang mengatasnamakan Islam, justru melakukan tindakan yang tidak terpuji. Indonesia juga dikenal dengan negara yang ramah, namun faktanya, masih saja ada sebagian masyarakat yang justru gemar menebar kebencian di dunia maya. Kenapa hal itu bisa terjadi? Apakah masyarakat Indonesia sudah mulai berubah seiring meningkatnya kadar intoleransi? Pertanyaan ini harus menjadi introspeksi bersama. Indonesia sebenarnya kaya akan nilai-nilai positif, yang kadang mulai ditinggalkan oleh generasi penerus. Nilai-nilai itu tertuang dalam lima sila Pancasila. Banyak orang beranggapan Pancasila sudah tidak lagi relevan dengan kondisi Indonesia, yang mayoritas masyarakatnya muslim. Bahkan Pancasila juga dianggap tidak bisa menyesuaikan d...

Rasulullah tak Pernah Ajarkan Radikalisme

Gambar
Jakarta, NU Online Ketua PCNU Jakarta Utara KH Ali Mahfudz mengatakan bahwa Ahlussunah wal Jamaah tidak membenarkan tindakan radikalisme. Sebab, Nabi Muhammad dan para sahabat tidak pernah mengajarkan radikalisme. "Saya tidak setuju kelompok radikalisme mengatakan Aswaja karena Aswaja mengikuti Nabi dan para Sahabat. Sementara Nabi dan para sahabat tidak pernah mengajarkan kekerasan," kata Kiai Ali di Hotel Nam, Jakarta Utara, Sabtu (6/10). Menurut Kiai Ali, pada peristiwa Fathu Makkah (pembebasan Kota Makkah), Rasulullah melindungi orang-orang yang tidak seakidah, seperti penganut agama Nasrani dan Yahudi, Rasulullah tidak pernah memaksakan ajaran-ajaran Islam agar dianut mereka dan tidak mengenakan zakat, tetapi diganti dengan membayar jizyah atau pajak. "Artinya, Islam di zaman nabi ini sangat toleran," jelasnya. Sementara akhir-akhir ini lanjutmya, toleransi yang merupakan salah satu prinsip penting dalam Islam mulai hilang dari pemahaman umatnya. Oleh ...