Postingan

Orientasi Keaswajaan, Bentengi Mahasiswa Unwahas dari Paham Radikalisme

Gambar
Semarang, NU Online Dalam rangka membentengi mahasiswa baru dari paham radikalisme, Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Semarang menggelar Orientasi Keaswajaan Bagi Mahasiswa Baru Tahun Akademik 2018/2019 yang berlangsung di kampus setempat, Selasa-Ahad (4-9/9).  Orientasi Keaswajaan yang bertajuk Meneguhkan Peran Unwahas dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara Berlandaskan Paham Aswaja An- Nahdliyah ini sudah dilaksanakan untuk kedua kali diikuti seluruh mahasiswa baru berjumlah 2061 dan dibagi menjadi 6 kelas.  Adapun materi yang disampaikan di antaranya pengertian dan sejarah aswaja, prinsip-prinsip aswaja NU, NU NKRI dan tantangan kontemporer, tradisi amaliyah NU dan dalilnya, serta Aswaja dalam berbagai bidang keilmuan. Sedangkan pembicara dari Rektor, Wakil Rektor 1, 2, 3 dan para dosen Unwahas.  Wakil Rektor 3, H Andi Purwono mengatakan Orientasi Keaswajaan dilatarbelakangi semakin berkembangnya berbagai macam aliran atau kelompok radikal. “Juga sebagai wahana untuk memper...

Kiai Said : Nasionalisme Bagian dari Iman

Gambar
Probolinggo, NU Online Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj mengatakan, Islam dan nasionalisme harus saling memperkuat dan tidak boleh dipertentangkan. Nasionalisme yang merupakan bagian dari keimanan Islam orang Indonesia, khususnya masyarakat NU, telah ada sejak zaman pendiri NU, KH Hasyim Asy’ari. “Nasionalisme bagian dari iman. Oleh karena itu saya berpesan agar warga muslim di negeri ini mencintai tanah air ” katanya. Hal tersebut disampaikan saat dirinya memberi kuliah umum dengan tema Ngaji Bareng Ke-NU-an dan Kebangsaan di kampus Institut Ilmu Keislaman Zainul Hasan Genggong Kraksaan, Rabu (5/9). Kiai Said Aqil Siroj mengingatkan, jangan menggunakan agama untuk tujuan politik. “Mari kita gunakan politik untuk memperkuat agama. Memperkuat agama bukan harus menghantam yang lain,” terangnya. Pada masa kini, lanjutnya, amanah menjaga ukhuwah wathaniyah dituntut semakin nyata. Di tengah gejolak sentimen kesukuan, keagamaan, golongan dan ras, spiri...

DA’WAH BIL HIKMAH

Gambar
ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (Qs.  An nahl ayat 125) Fenomena munculnya da’wah islam yang marak baik di media massa cetak maupun elektronika dan juga di sosial media patut di syukuri oleh kaum muslimin.  Dan juga munculnya para da’i yang sangat bersemangat dalam menyampaikan ajaran islam juga sesuatu yang menggembirakan umat islam.  Namun di tengah – tengah maraknya da’wah ini ada yang memprihatinkan kita dimana menyampaian materi da’wah yang kadang tidak bijak.  Dan lebih ironis lagi ada sebagian da’i berubah f...

Gus Muwafiq: Gerakan #2019GantiPresiden Gerakan Makar

Gambar
Baldatuna.com — Tagar itu tidak ada hukumnya. Tapi begitu jadi gerakan #2019GantiPresiden dia bermasalah. Karena presiden adalah struktur kelembagaan perangkat dari yang namanya goverment (pemerintah). Ada nation (bangsa), ada state (negara) dan ada goverment (pemerintah). Simbolnya presiden. Isinya civil. Kalau presiden sebagai bentuk kekuasaan daripada pemerintah gantinya apa? Ya khilafah, perdana menteri, kaisar atau raja. Demikian disampaikan oleh Gus Muwafiq merespon gerakan #2019GantiPresiden melalui sebuah video singkat berdurasi 1 menit lebih 58 detik. Video tersebut dipublikasika oleh Chanel Youtube Yayasaan Jannur, Sabtu (1/09/2018). “Kalau dulu ganti soeharto, bukan ganti presiden. Turunkan Soekarno bukan ganti presiden. Makanya kalau gerakan ganti presiden ini gerakan makar. Paling mereka nanti bilang, ‘ini kan maksudnya positif.’ Nggak usah pakai maksudnya. Kami buat Islam Nusantara, kamu bilang agama baru. Padahal kamu kan mestinya ngerti, artinya Is...

Nadirsyah Hosen Jelaskan Salah Kaprah Khilafah sebagai Solusi

Gambar
Jakarta,  NU Online Penulis buku  Islam Yes, Khilafah No: Doktrin dan Sejarah Politik Islam dari Khulafa ar-Rasyidin hingga Umayyah , Nadirsyah Hosen menjelaskan bahwa anak-anak eks HTI kerap mendengungkan khilafah sebagai solusi. Termasuk kaitannya saat ini dengan anjloknya rupiah. “Anak-anak eks HTI memang lucu-lucu. Rupiah anjlok, mereka bilang solusinya khilafah. Apa mereka sangka di masa khilafah zaman old itu nggak ada krisis ekonomi? Di masa khilafah semuanya makmur? Mimpi! Saya kasih dua fakta saja yah. Simak yuk,” ucap Nadirsyah dikutip  NU Online , Senin (3/9) lewat akun twitternya. Berikut penjelasan Dosen Senior Monash Law School ini terkait fakta sejarah yang dimaksud melalui akun twitternya: 1. Rakyat menderita pada masa Khalifah ke 22 Abbasiyah, Al-Mustakfi. Tidak ada makanan yang bisa mereka peroleh. Rakyat bertahan hidup dengan memakan apa saja, dari mulai rumput, sisa sampah, sampai anjing dan kucing liar. 2. Harga roti dikabarkan enam...

Alasan NU Bersikukuh Pertahankan Pancasila

Gambar
Bekasi,  NU Online Di tengah kelompok yang sedang menggembor-gemborkan  ideologi khilafah di negeri ini, Nahdlatul Ulama (NU) tetap bersikukuh mempertahankan Pancasila.  Dosen Institut Agama Islam Shalahuddin Al-Ayubi (INISA) Bekasi, Jawa Barat KH Ali Anwar mengungkapkan beberapa alasan NU menerima Pancasila sebagai dasar negara. Hal tersebut diungkapkannya saat memaparkan materi ke-NU-an dalam kegiatan Latihan Kader Muda (Lakmud) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU), di Pesantren Al-Ajhariyah, Cibitung, Kabupaten Bekasi, Jum'at (31/8). Dikatakan Kiai Ali Anwar, alasan NU menerima Pancasila adalah karena memiliki prinsip menolak kehancuran lebih diutamakan ketimbang memperoleh keuntungan. "Kemudian, tidak ada satu pun sila dalam Pancasila yang melanggar syariat Islam," katanya di hadapan puluhan kader IPNU IPPNU Kabupaten Bekasi. Lebih jauh, ia mengatakan bahwa semua semua sila sudah disepakati ol...

Lima Bukti Pancasila Sesuai Syariat Islam

Gambar
BincangSyariah.Com –  Akhir-akhir ini suara-suara untuk menegakkan syariat Islam secara keseluruhan kembali mencuat. Seruan ini disertai dengan usaha-usaha untuk menyebarkan ideologi kekhilafahan Islam sebagai dasar negara menggantikan Pancasila dan UUD 45. Bagi mereka, Pancasila dengan lambang burung Garudanya merupakan salah satu jenis kemusyrikan dan bahkan layak disebut thagut. Jelas pemikiran seperti ini merupakan hasil pembacaan yang nominalis, pembacaan yang fokus kepada nama, bukan semangat yang dikandung nama tersebut. Dalam Pancasila, tidak ada sila-sila yang dapat menjerumuskan ke dalam sistem kesyirikan atau ke-thagut-an. Coba perhatikan baik-baik lima sila dalam Pancasila. Semuanya merupakan pesan-pesan yang bersesuaian dengan nilai universal Islam. Bagi kita yang akrab dengan pemikiran al-Ghazali, as-Syatibi, Izzudin bin Abd Salam, al-Qaffal, Ibnu Asyur, Allal al-Fasi, ar-Raysuni dan lain-lain, ketika membandingkan semangat nilai yang terkandung dalam Pancasila...